TUGAS CERPEN B.INDONESIA
Namaku Arfa. Tapi Teman-teman lebih akrab memanggilku Ponidi. Aku tinggal hanya bersama dengan ibuku, Ketika Ayahku meninggal dalam kecelakaan 2 tahun lalu.
Semenjak Ayah meninggal, Aku kerap mengalami kejadian-kejadian aneh yang tak bisa dijelaskan dengan akal sehat. Seperti Melihat Mayat hidup, terlempar ke dunia lain, dan sebagainya. Awalnya, Aku mengira itu hanya bagian dari khayalanku. Namun belakangan, Aku sadar bahwa itu bukan sekedar dari khayalan semata.
Pagi ini, Aku berangkat ke sekolah seperti biasa bersama temanku. Foren. Aku hampir terbiasa mendengarkan celotehan dia tiap pagi mengenai pelajaran, pekerjaan rumah, bahkan keluhan tentang fasilitas sekolah yang kurang nyaman.
“… Eh pas Aku duduk, kursinya patah jadi dua.” Foren mengakhiri ceritanya.
“Pon, Ponidi! Kamu denger gak sih Aku ngomong Apa?!.” teriak Foren.
“Hmm..” jawabku singkat.
“Mmm.. Kamu denger gak cerita tentang Cermin yang di halaman belakang?.” Tanya Foren.
“nggak. kenapa emang?.”
“Kemarin Rini cerita, katanya Cermin itu pintu penghubung antara dunia kita sama dunia lain loh.” bisik Foren.
“Ah ngaco Kamu. udah deh gak usah ngarang cerita kaya gituan. Aku gak percaya. mending sekarang kita percepat jalan biar gak telat sampe sekokah.” Ujarku mendahului langkah Foren.
“Yeeh.. nih anak emang gak bisa diajak Kompromi deh.” gumam Foren pelan.
Sesampainya di sekolah, Aku dan Foren langsung masuk kelas tanpa banyak bicara. ‘mungkin dia marah.’ gumamku dalam hati. Bahkan sampai Bel istirahat berbunyi pun Foren sama sekali tidak menegurku.
“Rin, liat Foren gak?.” tanyaku pada Rini. tapi Rini tidak meresponku. Pandangan matanya kosong dan sesekali rambutnya berkibar tertiup angin. kucoba bertanya pada teman yang lain. Namun respon mereka tidak jauh berbeda seperti yang kudapat dari Rini. ‘Ini aneh.’ batinku.
Saat Bel pulang berbunyi, Aku mencoba mendekati Foren yang langsung bergegas pergi. Entah mengapa nalarku menuntun untuk mengikuti Foren. Akhirnya diam-diam, Aku mengikuti Foren sampai ke suatu tempat yang tak lain dan tak bukan adalah halaman belakang sekolah. ‘Mau Apa anak itu ke sini?.’ batinku.
Setelah 10 menit berlalu dan Foren tak kunjung bergeming, Aku baru sadar bahwa dia berdiri menghadap Cermin. Tapi tidak melakukan gerakan apapun layaknya orang bercermin. Penasaran, Kudekati Dia sambil mengulurkan tanganku hendak Memegang bahunya. Alangkah terkejutnya Aku Ketika tak sengaja Melihat Cermin, dan sama sekali tidak menemukan pantulan bayangan Foren di Cermin itu. dalam sekejap kakiku bergetar dan mulutku terbungkam tanpa bisa bersuara sedikitpun. Tubuhku Kaku, Mataku tak bisa lepas dari Cermin itu. Padahal jelas-jelas di depanku berdiri sosok Foren. Tapi di Cermin hanya memperlihatkan bayangan diriku.
“Pon.. Kamu kenapa diem aja?. Ayo kita pulang.” Kata Foren sambil Membalikan Tubuhnya. Semakin terkejut Aku Saat Melihat wajah Foren Penuh dengan Darah, Mulutnya yang Menganga dengan lebar dan Matanya yang kosong tanpa bola mata. Di tangan kirinya Memegang Kedua bola matanya. dan Di tangan kanannya Memegang sebilah pisau yang mengkilat terkena pantulan cahaya. ‘bukan. dia bukan Foren. Dia Hantu.’ batinku dalam hati.
Saat Hantu Foren perlahan mendekatiku, Aku hanya bisa mendengar detak jantungku yang Semakin cepat. dan tanpa bisa Menghindar, Tubuhku seolah merosot ke lantai.
Saat Sadar, Aku Melihat diriku tidak lagi di halaman belakang sekolah. melainkan di UKS. sejarak 2 meter, berdiri sosok yang sangat kukenal. Foren.
“Pon! Kamu Gak papa kan?.” Ujar Foren dengan panik sambil menghampiri ranjangku.
“Emang Aku kenapa?.” tanyaku bingung.
“Ka-Kamu.. Kamu pingsan dari tadi pagi.” Kata Foren
Sesaat Aku teringat peristiwa yang kualami dan mulai menceritakannya pada Foren. Dengan Ekspresi wajah yang ketakutan, Foren mendengarkankan Ceritaku sambil sesekali menarik napas panjang.
“Tuh kan. Kamu sih gak mau dengerin cerita Aku tadi pagi.” kata Foren seusai Aku bercerita
“Emang kenapa sih?.” tanyaku Penasaran
“Begini.. Dulu, ada Siswi sekolah ini yang namanya Mila. dia Itu primadona sekolah. Wajahnya cantik, senyumnya manis, Matanya cerah, bulu matanya lentik. pokonya sempurna deh. Anak laki-laki banyak yang tertarik sama dia. tapi anak perempuannya malah Pada benci sama Mila. salah satunya Luna. Dia anak dari kepala sekolah ini pada masanya. singkat cerita, Luna Mulai Nyusun rencana buat bunuh Mila. Akhirnya dia nemuin tempat yang tepat yaitu halaman belakang sekolah. Cara dia bunuh Mila bener-bener sadis. Di depan Cermin itulah Mila dibunuh. Wajahnya Ditusuk berulang kali pakai paku, matanya dia Congkel, mulutnya disobek Sampai Telinga. Setelah puas, Luna ninggalin mayat Mila gitu aja. sampai Pihak kepolisian yang Nyelidiki kasus Mila menangkap Luna dan dengan tragis, Luna Sengaja Bunuh diri Di kamarnya.” Foren Mengakhiri ceritanya
Aku hanya terdiam. ingat Saat tadi pagi dia berjalan sendirian di halaman belakang sekolah dan disitulah dia masuk ke Dunia Cermin. kemudian merenungkan kembali Apa yang akan Hantu Foren lakukan jika ia sedikit lebih lama berada dalam Dunia Cermin Itu.
Cerpen Karangan: Yulia Septiani
Komentar
Posting Komentar